Posted by: fery lambe | July 11, 2009

Pygmalion – Hukum Berpikir Positif …

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan isenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang
baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul.. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
* Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain.

Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia.

Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.
* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan.. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah…

Posted by: fery lambe | May 30, 2009

Suku Toraja

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).

Rumah Adat Toraja

IMG_1476Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa – dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Kesatuan adat

Seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo ( wilayah Tana Toraja) diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo yang secara harafiahnya berarti “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.

Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut.

Posted by: fery lambe | May 26, 2009

Musik Bambu Toraja

15musi8kKelompok musik dari SD Negeri Randanan, Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sedang memainkan musik bambu tradisional Toraja yang disebut “Pa’pompang” dalam acara pesta pemakaman almarhum Martha Uttu di Balaba’, Makale, Tana Toraja.

 Kalau masyarakat Sunda, Jawa Barat bangga dengan musik angklung, orang Toraja pun memiliki musik bambu. Orang Toraja menyebutnya Pa’pompang atau Pa’bas karena suara bas terdengar dominan.

Musik tradisional ini seakan melengkapi kekayaan budaya dan wisata Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Apa bedanya dengan angklung atau musik bambu lainnya? Suara yang dihasilkan angklung bisa digolongkan akustik, sedangkan musik bambu Toraja adalah jenis musik tiup.

Suara musik tradisional ini memang khas dan bisa menghasilkan dua setengah oktaf tangga nada. Meski tradisional, alat musik ini bisa dikolaborasikan dengan alat musik lainnya seperti terompet, saksofon, organ atau piano dan bisa digunakan untuk mengiringi semua lagu.

Alat musik ini dibuat dari potongan-potongan bambu, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Suara yang dihasilkan potongan-potongan bambu dengan rangkaian khusus itu pun sesuai dengan ukuran besar kecilnya. Karena itu, agar menghasilkan kombinasi suara yang harmonis, ukuran bambunya beragam sesuai nada yang akan dihasilkan. Satu kelompok Pa’pompang biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang berikut peniup suling.

Alat musik bambu ini bisa dimainkan orang dewasa maupun anak-anak SD bahkan anak TK sekalipun. Anak kecil malah lebih gampang mempelajari jenis musik ini dibanding orang dewasa.

Potongan bambu yang besar dan tinggi menghasilkan nada rendah. Sebaliknya, potongan bambu yang kecil menghasilkan nada tinggi. Potongan-potongan bambu itu awalnya dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa, sehingga menghasilkan bunyi. Agar pertemuan bambu tersebut kuat, biasanya diikat dengan rotan, sedangkan celah sambungannya ditutup dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan bulat tidak cempreng.

Namanya musik bambu, materialnya memang serba bambu, termasuk suling atau seruling sebagai pengiringnya. Bambu yang dipilih, biasanya bambu yang tipis dan ruasnya panjang, tidak cacat, lurus dan tua.

 Melestarikan Alam Toraja memang sangat kaya dengan aneka macam bambu. Kalau tidak ada bambu, bisa saja digantikan dengan pipa pralon. Hanya saja, selain harganya mahal, ukuran pipanya sulit disesuaikan dengan ukuran bambu. Lagi pula, bambu memang lebih alami dan kelihatan antik. Suling bambu merupakan pelengkap Pa’pompang. Suling mempunyai tujuh lubang, termasuk yang ditiup di ujungnya.

 Semuel Linggi (62) adalah salah seorang yang berjasa melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Toraja ini. Pensiunan guru Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) Kristen Makale Tana Toraja ini, boleh disebut pakar musik bambu Toraja.

Dia bukan hanya piawai memainkan musik bambu atau Pa’pompang. Suami dari Tabita Tarru ini adalah guru sekaligus produsen musik bambu Toraja.

Semuel belajar musik bambu bersama anak sekolah minggu di gereja tahun 1960-an. Semuel sudah menjadi pelatih musik bambu ketika duduk di kelas dua Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Kristen Makale. Setamat dari SMEA yang kini berubah menjadi SMK tersebut tahun 1965, Semuel mengajar di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), dan akhirnya guru SMEA hingga pensiun.

Selain dikenal sebagai guru matematika, Semuel berprofesi ganda sebagai guru sekaligus produsen musik bambu. Tidak heran, dia diminta melatih kelompok musik bambu di hampir semua wilayah Toraja.

Namanya cukup dikenal sebagai pemusik bambu, hingga Semuel diminta mengajar musik bambu di luar daerahnya, seperti daerah tetangga Toraja, yakni Kabupaten Enrekang, Sulsel. Tetapi, murid-muridnya di daerah itu belakangan mengklaim musik bambu Toraja sebagai musik tradisional Enrekang.

Menurut Semuel, musik bambu tradisional Toraja itu hampir mirip dengan musik tiup dari cangkang kerang di Minahasa, Sulawesi Utara. Awalnya, sejumlah guru asal Manado yang ditempatkan di Toraja membuat musik bambu, tetapi potongan bambunya hanya dilubangi, tidak dirangkai seperti yang dibuat orang Toraja dengan penuh kreasi.

Selain ke Enrekang, Semuel pun telah dipanggil ke beberapa daerah mengajarkan musik bambu. Dia telah berpetualang ke Kalimantan seperti ke Balikpapan, Bontang, Nunukan, Tenggarong menularkan ilmu musik bambu itu.

 Komunitas Toraja.

Umumnya yang meminta Semuel mengajar musik bambu adalah komunitas masyarakat Toraja di perantauan yang rindu dan ingin belajar sekaligus melestarikan musik tradisional kampung halamannya. Selain ke Kalimantan, Semuel pun mengajarkan ilmunya ke di Sorong Papua. Tetapi di daerah ini, tidak hanya orang Toraja yang tertarik, orang Papua asli pun antusias belajar musik bambu.

Pulau Jawa pun sudah dirambah Semuel. Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) bersama jemaat G23musikbereja Toraja Depok, Jawa Barat misalnya, tidak ketinggalan menimba ilmu sang guru musik bambu ini.

Selain dipergunakan sebagai musik pengiring dalam kebaktian di gereja, Pa’pompang sering ditampilkan dalam acara-acara khusus komunitas Toraja di Depok dan Jakarta seperti pada pesta perkawinan. Di Depok, tidak hanya Semuel yang didatangkan. Satu set musik bambu produksinya juga dipesan langsung dari Toraja.

Satu set musik bambu Toraja yang terdiri dari 35 unit dijual Rp 2 juta. Harga itu belum termasuk ongkos kirim. Dalam satu bulan, Semuel yang kini dibantu anak berikut menantunya, mampu menyelesaikan dua set musik bambu.

Kini musik bambu Toraja telah tersebar di sejumlah daerah. Semuel optimistis, musik bambu tersebut bisa lestari, sebab mereka yang telah dilatih termasuk di perantauan, secara tidak langsung adalah kadernya. [SP/Marselius Rombe Baan]

Posted by: fery lambe | May 24, 2009

Don’t Trust Anybody

trustSebuah kata yang simple namun mempunyai arti yang sangat dalam. Percaya secara umum adalah bertujuan akan adanya pengakuan kebenaran terhadap suatu hal. Biasanya, seseorang yang menaruh kepercayaan ke suatu hal itu akan disertai oleh perasaan ‘pasti’ atau kepastian terhadap masalah yang berkenaan. Makna lain adalah suatu keadaan jiwa yang berkaitan dengan sikap berkedudukan-memihak (propositional attitude).

Krisis percayaan yang saya alami ini muncul pada saat menonton film yang saya lupa akan judul film itu, secara garis besar film ini menceriterakan tentang perebutan sebuah kota antara cowboy vs indian. Dalam film ini banyak trik-trik dan juga mengandung unsur politik, seperti yang saat ini sedang berlangsung olahraga politik dalam pilpres di negeri tercinta indonesia. Dimana masing-masing orang sudah tidak lagi memiliki rasa percaya terhadap orang lain bahkan pada teman dekat sekalipun.

Demikian pula saya yang masih tetap berpegang pada kalimat ‘DTA’. So, mohon maaf kepada teman-teman kalau saya masih kurang yakin dan juga kurang percaya kepada anda…hehehe…peace…Namun demikian saya sarankan kepada teman-teman sekalian juga untuk tidak mudah percaya kepada seseorang terlebih lagi orang yang baru kita kenal.

660817_90418000Untuk membangkitkan rasa percaya kita terhadap orang lain yaitu dengan mengenal lebih dekat dan lebih dalam lagi kepada orang tersebut. Ada beberapa faktor yang bisa membantu dalam hal kita percaya kepada orang lain:

1. Komitmen, bukanlah sekadar menepati janji, tapi juga menghargai perjanjian yang telah disetujui bersama. Sikap saling mempercayai yang wujud dalam diri masing-masing akan mewarnai lagi hubungan dengan orang lain.

2. Kejujuran, memang perlu untuk menjamin sebuah hubungan yang baik. Kita juga tidak patut menyembunyikan perkara-perkara yang sepatutnya diketahui oleh dia.

3. Simpati, merupakan usaha untuk memberikan pengertian yang lebih mendalam, seakan berusaha menempatkan diri kita di dalam emosi si dia, sehingga dia bisa lebih yakin lagi kepada kita atau sebaliknya kita lebih bisa menaruh kepercayaan kepada orang lain.

Posted by: fery lambe | May 24, 2009

‘Coffee Lover’

kepala1Sebagai seorang yang sangat tergantung sama kopi Toraja sehingga saya mau menulis tentang apa yang saya rasakan tentang Kopi Toraja (KoTor). Pernah sih beberapa waktu lalu saya sempat berniat untuk berhenti dari meminum secangkir kopi, yang konon kata orang-orang tidak baik untuk kesehatan. Namun peringatan itu saya tempas jauh hingga sekarang saya tetap menyeruput secangkir kopi setiap pagi.

Nikmatnya lagi karena waktu menyeruput secangkir kopi toraja, saya jadi mengingat kembali akan kampung halaman saya di Tana Toraja, tepatnya di Ampang-Tarongko,Makale. Karena IMG_0330saat ini saya berada jauh di perantauan tepatnya di P.Halmahera Utara dalam menjalankan tugas n pekerjaan. Kopi yang saya minum ini juga adalah kopi hasil panenan dari kebun ne’Memun yang hanya memiliki beberapa pohon saja sejak dulu. Sesuatu yang sangat membuat saya begitu bangga akan keberadaan kopi toraja ini.

Beberapa waktu lalu ada beberapa teman kantor yang doyan juga untuk meminum kopi, namun sekarang mereka sudah pindah kerja ke tempat lain. Beragam komentar yang mereka berikan setelah merasa akan kenikmatan kopi toraja yang saya bawa untuk di minum di tempat kerja. Dibangdingkan sama kopi lokal di daerah ini dan juga kopi yang mereka bawa pada saat balik dari hari cuti mereka.

Tinggallah aku sebagai penerus pecinta kopi yang ada di kantor ini…hiks…namun tak apalah saya rasa karena memang kehidupan yang kita jalani ini pasti saja ada teman yang datang dan juga ada teman yang pergi untuk tetap melanjutkan tugas dan kehidupan masing-masing. Satu hal yang saya ingin sampaikan kepada para pecinta kopi jangan berhenti untuk meminum kopi yahhh…..hehehe….

Posted by: fery lambe | May 24, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.